Hanamasa Resto

Orang Tua Tak Perlu Malu Punya Anak Cacat

22 March 2013

Anak adalah tanggung jawab orang tua. Anak harus diperlakukan secara baik menurut kebutuhannya masing-masing. Namun, kadang banyak orangtua yang meminggirkan anak-anak mereka, hanya karena keterbatasan mereka.

Anak-anak yang dikaruniai kebutuhan khusus acapkali membuat anda sebagai ibu merasa malu dan rendah diri. Ditambah dengan tidak adanya dukungan dari suami anda, maka yang terjadi, anak-anak selalu disalahkan.

Satu hal yang perlu anda garis bawahi sebelum anda mengatasi rasa minder karena memiliki anak yang "cacat" fisik atau mental, mereka pun tidak menginginkan terlahir dengan kondisi yang demikian.

Semua itu keinginan Maha Pencipta untuk anda renungkan. Sayangilah mereka karena mereka darah daging anda dan titipan dari Tuhan untuk anda sayangi. Ini adalah tanggung jawab anda untuk merawat mereka sepenuh hati.

Jangan pernah memandang anak-anak yang terlahir ke dunia ini sebagai anak cacat, tapi sebutlah mereka dengan "anak-anak berkebutuhan khusus".

Ini sama halnya kalau kita mendapatkan anak-anak yang di mata orang lain sebagai anak berkemampuan lebih, berbakat, genius, dan sebagainya.

Sebagai orang tua, adalah kewajiban kita untuk memperhatikan anak-anak kita. Sebab kalau tidak kita sebagai orang terdekat mereka yang bisa memperhatikan mereka, siapa lagi? Mereka adalah anak-anak yang terlahir tanpa pernah tahu bahwa kita adalah orang tuanya.

Kita semua terlahir ke dunia ini tidak pernah bisa memilih untuk menjadi anak siapa. Karena itu terima semua apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Kita selama ini bekerja, mencari nafkah, semuanya adalah untuk keluarga. Nah, kalau anak sendiri tidak diperhatikan, apa artinya semua perjuangan ini?

Pernahkah anda membayangkan betapa sedih dan menyedihkannya bila kita ditinggalkan oleh orang-orang di sekitar kita, apalagi yang meninggalkan kita itu adalah orang-orang yang justru kita harapkan menjadi orang yang paling peduli dengan diri kita yakni orangtua kita sendiri.

Di saat kita kuat, segar bugar, kita bisa dengan pongah dan congkak memperlihatkan begitu berkuasanya kita. Sehingga kita tidak mempedulikan orang-orang lemah.

Saking sombong dan tidak bertanggungjawabnya kita, sampai-sampai kepada anak sendiri kita berlaku congkak, pongah, dan sombong, sehingga kita tidak mempedulikan anak yang seharusnya kita sayangi, yang menjadi tanggung jawab kita.

Terbayangkah oleh anda pada suatu saat bila anda tidak berdaya lagi, mungkin karena tua, mungkin karena penyakit stroke, perlakuan seperti apa yang paling anda rindukan dari orang-orang terdekat anda?

Anda tentu butuh yang namanya perhatian, bukan?

Untuk itu, kepada anda yang mempunyai anak-anak berkebutuhan khusus, marilah bahu membahu untuk membantu anak-anak kita.

Kepada orang tua yang tidak, atau mungkin hanya sekadar lupa akan tanggung jawab dan perhatian yang perlu diberikan kepada anak-anaknya, marilah ubah sikap.

Banyak dalam sejarah diceritakan bahwa justru anak-anak yang terkadang kita pandang sebelah mata, malah itu yang menjadi penghibur kita di saat kita susah.

Bagi anda yang saat ini merasa sendiri, dan kurang mendapat respon yang sesuai harapan anda dari pasangan anda dalam mengurus anak, cobalah untuk bicara dari hati ke hati.

Cobalah pecah kebuntuan komunikasi ini. Ajak pasangan bicara bersama, ajak pasangan anda untuk melihat sendiri anaknya.

Mudah-mudahan hatinya terketuk dan kemudian terbuka untuk mencurahkan kasihnya kepada anak yang sangat merindukan kasih ayahnya.

Kalau ada yang sampai saat ini merasa malu mempunyai anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya dia harus lebih malu, karena telah berlepas diri dan melepas tanggung jawab.


blog comments powered by Disqus

Parenting Index