Hanamasa Resto

Menjual Rumah Warisan Keluarga

11 September 2013

Warisan selalu menjadi masalah utama yang timbul dalam keluarga. Seperti yang banyak diulas di media massa. Dengan memperebutkan warisan yang ada, bisa mengakibatkan kematian. 

Masalah tersebut terjadi karena satu pihak merasa tidak puas. Sehingga, hal itu berdampak pada emosi yang tinggi. Jika seseorang sudah dalam keadaan kalap, ia bisa melakukan apapun untuk mendapatkannya.

Menjual rumah warisan seharusnya dilakukan dengan tepat dan benar. Dengan begitu, diharapkan akan meminimalisir konflik yang bisa saja muncul. Di bawah ini akan diungkapkan cara menjual rumah warisan keluarga:

Konsultasi dengan pihak berwenang

Untuk menjual rumah warisan keluarga, sebaiknya Anda melakukan konsultasi terlebih dahulu. Konsultasi ini bertujuan untuk mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga Anda, bila ada keluarga Anda yang tidak setuju.

Hal ini dikarenakan tidak hanya undang-undang yang mengatur tentang harta warisan. Melainkan dalam agama juga mengatur. Sehingga, akan terlihat lebih jelas berapa bagian yang diterima. Terlebih lagi dalam undang-undang juga mengatur keadaan yang berhak menjadi ahli waris ataupun bila terhalang mendapatkan warisan.

Dengan konsultasi berbadan hukum, maka semuanya akan terlihat jelas. Sehingga, hal tersebut tidak akan memicu konflik.

Musyawarahkan dengan keluarga

Tidak ada salahnya juga bila Anda melakukan musyawarah dalam keuarga Anda. Tindakan ini dilakukan untuk mendapat persetujuan dari keluarga. Persetujuan seluruh anggota keluarga mutlak diperlukan.

Dengan begitu, dalam proses penjualannya pun akan mudah. Di sisi lain, musyawarah dapat memperjelas kemauan setiap anggota keluarga. Dengan begitu persetujuan pun akan di dapat. Pada akhirnya, hal ini akan mempermudah dalam proses penjualan.

Memenuhi Syarat-Syarat

Untuk memperlancar proses jual beli rumah warisan, diperlukan beberapa dokumen-dokumen. Dokumen-dokumen tersebut untuk menunjang proses penjualan.

Hal ini disebabkan tidak akan pernah terjadi penjualan tanpa surat-surat. Anda biasanya perlu menyediakan dokumen-dokumen tersebut. Dokumen-dokumen itu berupa surat ahli waris, surat mengenai rumah lengkap, fotocopy KTP, kartu keluarga, Bukti Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan fotocopy berupa Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB).

Apabila semua dokumen telah siap, Anda bisa lanjut ke proses selanjutnya. Dokumen tersebut menjadi alat pelengkap untuk menjual rumah warisan Anda.

Melibatkan Perantara

Bila syarat-syarat telah dipenuhi, Anda bisa melibatkan perantara. Tentunya, hal ini atas persetujuan keluarga Anda. Atau di sisi lain, Anda tidak paham mengenai proses menjual rumah warisan. Sehingga inilah mengapa Anda memerlukan bantuan seorang perantara.

Perantara tersebut bisa jadi adalah orang kepercayaan Anda. Seorang perantara biasanya mempunyai jaringan yang luas. Hal ini akan berdampak pada kecepatan rumah tersebut di jual. Tetapi, bila Anda tidak percaya pada perantara, Anda dapat menjualnya sendiri. Anda dapat menawarkannya lewat iklan di koran-koran.

Dampak negatif yang mungkin Anda peroleh adalah waktu yang lebih lama. Memang dengan menggunakan perantara akan menambah jumlah orang untuk membagi hasilnya.

Seperti yang telah diungkapkan di atas mengenai menjual rumah warisan keluarga. Dalam menjual rumah warisan memang sebaiknya berhati-hati.

Hal ini bertujuan untuk menghindari konflik yang mungkin terjadi. Jadi, Anda bisa menjual rumah warisan tanpa perlu khawatir mengenai hubungan Anda dengan keluarga. Tentu saja Anda bisa melibatkan orang yang Anda percaya seperti pakar hukum. Membicarakannya dengan baik-baik bersama keluarga menjadi solusinya. Apabila persetujuan sudah di dapat, maka mengurusnya pun akan mudah. (yn/jun) 


blog comments powered by Disqus

Family Index