Bagi para wisatawan, Kuil Yasukuni mungkin terdengart istimewa. Nama kuil ini sejak lama selalu muncul di halaman surat kabar. Bukan lantaran keindahan atau kemegahannya, namun karena kontroversialnya. Maka tak heran jika para wisatawan yang berkunjung ke Jepang selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Kuil ini, tentunya dengan membawa rasa penasaran akan keberadaan kuil ini.
Secara fisik, Kuil Yasukuni tak berbeda dibandingkan ribuan kuil Shinto lainnya yang ada di Jepang. Seperti layaknya kuil Shinto, Kuil Yasukuni, atau disebut Yasukuni Jinja (jinja artinya kuil) oleh orang Jepang, juga memiliki gerbang khas di pintu masuk kompleks kuil, atau disebut torii. Wujud torii, atau gerbang kuil, bisa dikatakan bukan sesuatu yang asing bagi mata kita. Selama ini, bila kita melihat berbagai brosur mengenai pariwisata Negeri Matahari Terbit, torii adalah salah satu ikonnya selain Gunung Fuji yang terkenal itu.
Pada dasarnya, kuil-kuil yang ada di Jepang terbagi dua, kuil Shinto dan kuil Buddha. Adapun kuil Shinto, seperti Yasukuni, bisa digolongkan lagi berdasarkan peruntukannya atau alasan pendiriannya. Berdasarkan kepercayaan Shinto yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Jepang, kuil didirikan sebagai tempat untuk mengabadikan sekaligus melakukan pemujaan terhadap kami atau arwah/dewa yang menjadi objek kepercayaannya.
Oleh karena itu, ada yang disebut Kuil Asama untuk memuja dewa gunung (asama berarti gunung) yang jumlahnya sekitar 1.300 di seluruh Jepang dan terletak di kaki Gunung Fuji. Ada pula yang disebut Kuil Ebisu yang berarti dewa nelayan, nasib baik, pekerja, atau pun pelindung kesehatan anak-anak kecil, serta kuil-kuil jenis lainnya seiring banyaknya dewa dalam kepercayaan Shinto. Namun, kuil Shinto yang paling terkenal adalah Kuil Itsukushima yang terletak di Pulau Miyajima, tak jauh dari kota pelabuhan Hiroshima. Kuil ini merupakan salah satu tujuan turis paling populer di Jepang, baik turis lokal maupun asing, lantaran torii-nya yang mengambang di atas laut.
Kuil Yasukuni sendiri khusus didedikasikan bagi kami para tentara atau mereka yang tewas dalam peperangan untuk membela Kekaisaran Jepang. Kuil ini awalnya bernama To-kyo-Sho-konsha, dibangun pada Juni 1869 atas perintah Kaisar Meiji (1852-1912) sebagai dedikasi bagi para serdadu yang tewas dalam perang Boshin (1868-1869), yakni perang saudara di Jepang antara pasukan yang loyal kepada Tokugawa dan kekuatan yang ingin mengembalikan kekuasan tertinggi ke tangan kaisar. Kuil-kuil jenis ini semula banyak terdapat di Jepang. Namun, pada 1879, penguasa Jepang menetapkan Kuil Yasukuni sebagai kuil resmi dan utama bagi penghormatan arwah para tentara seiring dengan diubahnya nama To-kyo-Sho-konsha menjadi Yasukuni.
Sesuai kepercayaan Shinto, kami para tentara, atau mereka yang diabadikan di kuil ini, berkumpul di Kuil Yasukuni meski jasad atau abu mereka berada di tempat lain. Seperti dikatakan para pemandu, sebelum meninggal, para tentara sering mengutarakan keinginan untuk bertemu dengan rekannya --yang lebih dulu meninggal atau yang diyakini akan meninggal di medan perang-- di Yasukuni. Jadi, tak seperti anggapan sebelumnya, kuil ini bukannya berisikan makam atau abu para tentara tersebut.
Kompleks Kuil Yasukuni memiliki luas kira-kira tiga kali lapangan sepak bola, terdiri dari berbagai bangunan kuil yang tentunya bergaya khas Jepang. Torii, atau gerbang kuil, hanya bisa ditemukan di kuil Shinto seperti Yasukuni. Khusus untuk Yasukuni, torii di sini adalah yang terbesar di seantero Jepang. Tingginya mencapai 25 meter dan lebarnya 34 meter. Karena itulah disebut Daiichi Torii atau Great Gate.
Keunikan lainnya yang ditemui di kompleks Kuil Yasukuni adalah berbagai patung yang bertemakan perang dan tentara, seperti patung seorang pilot kamikaze atau pasukan berani mati Angkatan Udara Jepang di masa lalu, atau patung yang menggambarkan seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya seorang diri lantaran suaminya gugur di medan perang. Satu patung yang paling mencolok adalah patung raksasa Omura Masujiro yang terletak tak jauh dari Daiichi Torii dan tingginya melebihi torii itu sendiri. Masujiro (1824-1869) adalah pendiri angkatan perang Jepang modern. Ia memiliki peran besar dalam pendirian Kuil Yasukuni.
Bagian dalam kompleks kuil tertutup bagi para pengunjung. Pengunjung hanya diperbolehkan sampai di teras bangunan utama atau haiden. Dari sini tampak honden yang berada di bagian dalam kompleks. Honden adalah kuil utama yang dipercaya menjadi tempat berkumpul para kami. Di antara honden dan haiden terletak shinchi teien atau taman kolam keramat. Taman ini merupakan salah satu yang terindah dan terkenal di Jepang, yang didirikan di awal kekaisaran Meiji.
Di tengah-tengah taman terdapat air terjun dengan suasana sekelilingnya yang amat indah dan tenang, yang konon membuat pengunjungnya serasa berada di tengah pegunungan. Sayang, seorang penjaga melarang mengambil gambar ketika saya mengeluarkan kamera saat berada di teras haiden. Di teras inilah para pengunjung atau umat Shinto memanjatkan doa kepada para kami dengan menghadap honden. Berbeda dengan kuil Buddha yang memiliki patung Buddha untuk memanjatkan doa, kuil Shinto tak memiliki patung sebagai perwujudan dari kami atau dewa. (rn)

































