banner pereshop 20/5/2013

75% Penderita Hemofilia di Indonesia Minim Penanganan

17 April 2012

Penanganan untuk penyakit Hemofilia di Indonesia tergolong masih sangat minim, untuk saat ini sekiranya ada 75 persen orang penderita Hemofilia di Indonesia belum mendapatkan penanganan khusus.

Oleh karena itu bertepatan dengan hari Hemofilia sedunia tanggal 17 April ini MRCC siloam bekerja sama dengan beberapa pakar kesehatan mengadakan seminar tentang tentang Hemofilia yang bertajuk"Close The Gap".

"Dalam memperingati Hari Hemofilia Dunia 2012 dengan tema Close The Gap, kami ingin menginspirasi orang untuk membantu menutup kesenjangan serta meningkatkan aksesbilitas dan kualitas pelayanan sehingga pengbatan bagi semua menjadi kenyataan," kata Prof DR Moeslichan Nz dr SpA(KY) selaku pengarah yayasan pemerhati hemofilia Indonesia di MRCCC Siloam Semanggi, Selasa (17/4).

Di Indonesia, terdapat 1 dari 10 ribu hemofilia A dan 1 dari 50 ribu hemofilia B, tapi hanya 25 persen yang mendapat pelayanan adekuat.

Sementara itu, Mark Skinner, Presiden World Federation of Hemofilia (WHF) berujar, kenyataannya kebanyakan orang dengan hemofilia atau kelainan pendarahan lain tidak menerima diagnosis yang memadai, pengobatan, dan manajemen untuk kondisi mereka. Ini penting apakah pengobatan yang ada sudah baik, tapi perawatannya perlu ditingkatkan.

Seperti diketahui penyakit Hemofilia cenderung diderita oleh kalangan laki-laki "Maka itu, jika anak Anda mengalami lebam-lebam biru seperti kalau kata orang dicubit setan, itu kemungkinan hemofilia. Atau, lutut tiba-tiba bengkak, itu bukan rematik. Atau, disunat tapi darahnya enggak habis-habis, itu patut dicurigai," tambah Prof DR Moeslichan Nz dr SpA(KY).

Tetapi dengan kemajuan teknologi sekarang penyakit Hemofilia bisa dicegah sejak dini, terutama jika masih dalam  kandungan. Tetapi jika terlahir maka penyakit tersebut tidak dapat dicegah.

blog comments powered by Disqus
superman

Health Index