Monday, 06 September 2010 Home | Editor | Letters | Advertising   
Perempuan.com

Fresh News



Gagal Berbisnis Franchise
Monday, 19 July 2010
Bapak Rohmadi di Bandung mencoba meneruskan masa pensiunnya dengan mencoba membuka usaha. Mengikuti beberapa anjuran teman dia membeli franchise makanan dan membuka kios ayam bakar tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saat ini dia sudah hampir satu tahun membuka usaha franchisenya dan tidak pernah merasa mempunyai usaha yang menyenangkan.

Sebenarnya usaha rumah makan ayam bakarnya pernah mendapatkan penjualan yang lumayan bagus, yaitu saat bulan ke dua dan ketiga sejak pembukaan outletnya. Tetapi semakin lama penjualannya semakin kurang pelanggan, dan yang kurang menyenangkan adalah bahwa hubungannya dengan pemberi Waralaba (franchisor) semakin kurang baik. Cenderung menjadi semakin membenci.

Fenomena membeli franchise seperti yang dialami bapak Rohmadi di atas kerap terjadi. Seolah-olah menjadi fenomena umum di franchising. Hal ini yang saya selalu khawatir. Takut citra dan kesannya berbisnis franchise menjadi kurang bagus. Sebenarnya hal ini bisa terjadi karena persiapan dan mengkondisikan persiapan kerjasama franchisenya kurang proporsional. Memang ada kemungkinan bahwa perjalanan bisnisnya menjadi berubah dari rencana semula, tetapi dari kasus yang sering muncul mengidentifikasikan bahwa persiapannya memang kurang lengkap.

Kegagalan demikian bisa terjadi dari dua sisi. Baik dari sisi franchiseenya (penerima franchise) atau juga kontribusi dari franchisornya (pemberi franchise). Kegiatan bapak Rohmadi sebelum ini adalah karyawan perusahaan yang orientasinya adalah bekerja. Mungkin banyak keputusan ekonomisnya ditentukan atas perintah atasannya. Jiwa kewirausahaannya kurang tergali selama menjadi karyawan lebih 25 tahun. Saat dia berbisnis, seringkali inisiatif untuk proaktif menjadi kurang cepat. Dia tidak memberikan apresiasinya kepada pelanggan yang sempat ramai datang ke outletnya. Tidak juga mempunyai perhatian pada kondisi outletnya yang semakin lama semakin kotor dan kurang terawat. Sikapnya kepada para karyawannya juga agak terlalu ‘bossy’. Kurang sekali inisiatifnya untuk melakukan kegiatan yang detail.

Disisi lain, franchisor juga kerap kurang siap membimbing franchiseenya dengan jangka panjang. Franchisor hanya concern pada saat awal menjelang perjanjian kerjasama dan pembukaan outlet. Kadangkala franchisor merasa para franchiseenya sudah cepat mengerti bisnisnya. Mereka sering lupa bahwa franchiseenya mungkin baru punya pengalaman berbisnis. Monitoring dan control juga seringkali kurang konsisten.

Bagaimana kita berupaya mencegah terjadinya situasi seperti tersebut di atas? Hal yang paling dini adalah bahwa baik franchisor maupun calon franchisee perlu saling menjajaki lebih dulu karakter masing-masing pihak sebelum menjalin kerjasama. Franchisor perlu mendalami karakter calon franchiseenya sebelum diterima menjadi mitranya untuk jangka panjang. Jika kelihatan diawal wawancara bahwa calon franchiseenya kurang kompeten untuk bisa tekun dan trampil berbisnis dengan tekun untuk jangka panjang, sebaiknya franchisor tidak melanjutkan untuk bermitra. Atau paling tidak franchisor sudah mempunyai kiat-kiat agar calon franchisee yang mempunyai kelemahan ini bisa ditingkatkan kemampuannya.

Pemberi Waralaba (franchisor) wajib untuk selalu meningkatkan kegiatannya dalam hal pelatihan dan konsultasi yang dapat meningkatkan kemampuan para franchiseenya berbisnis dan mencapai sukses.


Share